Darksiders II: Asal-usul Four Horsemen, Dosa Masa Lalu Death, dan Misinya Menyelamatkan War
Di alam semesta Darksiders II, keseimbangan bukan sekadar sebuah konsep. Ia merupakan tatanan yang harus dijaga agar kehidupan, kegelapan, cahaya, kebajikan, dan kejahatan dapat tetap berada dalam susunan yang semestinya.
Namun, keseimbangan tersebut telah hancur. Bumi telah menjadi puing-puing dan berada di bawah kekuasaan para Penguasa Iblis. Di tengah kehancuran itu, War, salah satu dari Four Horsemen, dituduh sebagai penyebab datangnya Kiamat dan kehancuran umat manusia.
Sementara War menghadapi penghakiman dari Charred Council, salah satu saudaranya justru mengambil keputusan untuk menyelamatkannya.
Dialah Death.
Dalam bagian pembuka Darksiders II, kita tidak hanya diperkenalkan kepada sosok Death, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai asal-usul Four Horsemen, bangsa Nephilim, serta sebuah misi yang tampaknya mustahil: mengembalikan umat manusia dari kepunahan.
Charred Council dan Keseimbangan Alam Semesta
Menurut narasi pembuka, keberadaan segala sesuatu membutuhkan sebuah tatanan. Kehidupan dan kematian, kebaikan dan kejahatan, kegelapan dan cahaya, semuanya harus berada dalam keseimbangan.
Tatanan tersebut dijaga oleh sebuah lembaga kuno bernama Charred Council.
Dewan ini dibentuk berdasarkan ketetapan Sang Pencipta dan diberikan tugas untuk menjaga keseimbangan eksistensi. Dengan kata lain, Charred Council memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa tidak ada kekuatan yang merusak tatanan alam semesta.
Namun, keseimbangan yang seharusnya mereka jaga ternyata telah hancur.
Bumi menjadi salah satu bukti kehancuran tersebut. Planet itu telah berubah menjadi puing-puing dan jatuh ke tangan para Penguasa Iblis. Bahkan, sang Penghancur telah membangun kerajaan baru di antara para pengikut pilihannya.
Di tengah situasi tersebut, muncul tuduhan bahwa War adalah pihak yang memicu Kiamat. Ia dianggap turun ke Bumi tanpa dipanggil dan menyebabkan kehancuran umat manusia.
Akibatnya, War kini berada dalam tahanan Charred Council dan menunggu penghakiman atas perbuatannya.
Namun, kisah ini tidak hanya berpusat pada War. Ada tiga Penunggang Kuda lainnya yang memiliki sejarah jauh lebih panjang daripada yang terlihat.
Asal-usul Four Horsemen: Mereka Adalah Nephilim
Sebelum dikenal sebagai Four Horsemen, Death, War, Fury, dan Strife sebenarnya berasal dari bangsa yang sama, yaitu Nephilim.
Dalam narasi game, Nephilim digambarkan sebagai hasil penyatuan antara Malaikat dan Iblis. Mereka merupakan bangsa yang sangat kuat dan telah membantai banyak dunia, meninggalkan kehancuran di berbagai tempat yang mereka taklukkan.
Penaklukan tersebut berlangsung begitu luas hingga empat anggota Nephilim mulai merasa bahwa tindakan bangsa mereka dapat membahayakan Keseimbangan alam semesta.
Mereka akhirnya mengambil keputusan untuk menghentikan pembantaian tersebut.
Keempatnya membuat sebuah kesepakatan dengan Charred Council. Sebagai imbalan atas pengabdian kepada Dewan, mereka akan mendapatkan kekuatan yang sangat besar.
Dari kesepakatan inilah Four Horsemen terbentuk.
Namun, ada satu bagian yang membuat asal-usul mereka terasa jauh lebih kelam.
Tugas pertama yang diberikan kepada keempatnya bukanlah menaklukkan bangsa lain atau melindungi sebuah dunia. Mereka justru diperintahkan untuk memusnahkan saudara-saudara mereka sendiri dari alam semesta dan menghancurkan jiwa mereka.
Dengan demikian, Four Horsemen lahir melalui sebuah pengorbanan yang sangat besar: mereka harus berbalik melawan bangsa sendiri demi menjaga keseimbangan.
Death: Sang Algojo yang Kini Ingin Menyelamatkan War
Di antara keempat Penunggang Kuda, cerita kali ini mengikuti Death.
Ia dikenal dengan berbagai julukan, termasuk Pembantai Kaum dan Sang Algojo. Julukan tersebut berkaitan dengan perannya dalam pemusnahan bangsa Nephilim.
Namun, ada sesuatu yang menarik dari sosok Death.
Meskipun pernah menjadi bagian dari pemusnahan bangsanya sendiri, sekarang ia justru bersumpah akan melakukan apa pun untuk menyelamatkan saudaranya, War.
War sedang menghadapi penghakiman dari Charred Council karena dituduh menyebabkan kepunahan umat manusia. Death tidak ingin membiarkan saudaranya menerima hukuman tersebut.
Karena itulah ia mengambil keputusan untuk mengembalikan umat manusia.
Masalahnya, Death sendiri bahkan belum mengetahui bagaimana cara melakukannya.
Meskipun demikian, ia tetap berangkat menembus Selubung Es untuk mencari seseorang yang diyakininya memiliki jawaban: Crowfather, sang Penjaga Rahasia.
Pertemuan Death dengan Crowfather
Pertemuan Death dan Crowfather tidak berlangsung dengan suasana yang bersahabat.
Ketika Death tiba, Crowfather terdengar terus-menerus terganggu oleh suara-suara yang menyiksanya. Ia bahkan mengatakan bahwa dirinya mengutuk hari ketika pernah membantu Death.
Dari percakapan mereka, terlihat bahwa keduanya memiliki sejarah bersama yang tidak sederhana.
Death kemudian menjelaskan tujuan kedatangannya. Ia membutuhkan bantuan Crowfather untuk menyelamatkan War.
Crowfather sebenarnya sudah mengetahui alasan kedatangan Death. Ia juga memahami bahwa War telah dipenjara oleh Charred Council karena dianggap bertanggung jawab atas kehancuran Bumi dan kepunahan umat manusia.
Namun, Crowfather mempertanyakan mengapa dirinya harus peduli terhadap nasib War.
Death menjawab bahwa Crowfather mengetahui kebenaran. Rahasia yang dimilikinya mungkin dapat membantu menyelamatkan sang saudara.
Crowfather kemudian menjelaskan bahwa Charred Council akan menghukum War, mencabut kekuatannya, dan membiarkannya lenyap dalam kehampaan demi menyembunyikan kebenaran.
Namun, ada satu masalah: rahasia Crowfather tidak cukup untuk membuktikan bahwa War tidak bersalah.
Death kemudian memberikan jawaban yang cukup menarik.
Ia mengatakan bahwa rahasia tersebut memang tidak bisa membuktikan ketidakbersalahan War. Tetapi, rahasia itu mungkin dapat membantunya menghapus kejahatan yang dituduhkan kepada saudaranya.
Artinya, Death tidak hanya berusaha mencari bukti untuk membela War. Ia ingin mengubah keadaan yang telah menyebabkan War dituduh sebagai penyebab kehancuran umat manusia.
Tree of Life: Petunjuk Pertama untuk Mengembalikan Umat Manusia
Ketika Death menyampaikan keinginannya untuk mengembalikan umat manusia dari kepunahan, Crowfather menganggap rencana tersebut sebagai kegilaan.
Namun, ia akhirnya membuka sebuah portal menuju tempat yang memperlihatkan sebuah pohon besar.
Death mengenalinya sebagai Tree of Life.
Crowfather menjelaskan bahwa jika memang ada jalan untuk mengembalikan umat manusia, Death akan menemukannya di tempat tersebut.
Tree of Life menjadi petunjuk pertama yang diberikan Crowfather dalam perjalanan Death.
Menariknya, pada bagian ini belum dijelaskan bagaimana pohon tersebut dapat membantu menghidupkan kembali umat manusia. Yang diketahui hanyalah bahwa Crowfather mengarahkan Death ke sana sebagai tempat untuk menemukan kemungkinan jalan keluar.
Setelah portal dibuka, Death meminta agar dirinya diizinkan melewatinya.
Namun, Crowfather belum selesai.
Ia masih memiliki sesuatu yang harus dikembalikan kepada Death.
Amulet yang Menyimpan Jiwa Nephilim
Sebelum mengizinkan Death melewati portal, Crowfather memperlihatkan sebuah amulet bercahaya hijau.
Benda tersebut ternyata merupakan amulet yang sebelumnya diberikan Death kepada Crowfather sebagai bagian dari kesepakatan mereka.
Namun, Crowfather sekarang meminta Death untuk mengambilnya kembali.
Alasannya cukup mengerikan.
Dari dalam amulet tersebut terdengar suara-suara yang terus mengutuk, mengancam, dan memohon agar dapat dikembalikan.
Crowfather tidak tahan lagi mendengar suara-suara tersebut. Ia bahkan meminta Death untuk menghancurkan amulet itu.
Ketika Death bertanya mengenai alasan permintaan tersebut, Crowfather menjelaskan bahwa suara-suara itu berasal dari saudara-saudara Death yang terperangkap dalam penderitaan abadi.
Ia kemudian mengingatkan Death bahwa meskipun tubuh mereka telah dimusnahkan, jiwa mereka masih tersimpan di dalam amulet tersebut.
Ada satu pertanyaan yang kemudian dilontarkan Crowfather:
Jika Death sudah menghancurkan tubuh saudara-saudaranya sendiri, mengapa ia masih menjaga jiwa mereka?
Pertanyaan itu memperlihatkan sisi lain dari masa lalu Death.
Di balik julukannya sebagai Pembantai Kaum, ternyata masih ada hubungan antara dirinya dan jiwa-jiwa Nephilim yang telah dimusnahkan.
Namun, Death tidak sanggup menghancurkan amulet tersebut.
Ia hanya menjawab bahwa dirinya tidak bisa melakukannya.
Ketika Crowfather terus memaksanya, Death akhirnya mengeluarkan kedua senjatanya dan meminta Crowfather membuka portal.
Crowfather menolak.
Ia mengatakan bahwa Death tidak akan melewatinya selama dirinya masih hidup.
Pertemuan yang awalnya merupakan permintaan bantuan pun berubah menjadi pertarungan.
Crowfather Menguji Kesetiaan Death kepada War
Crowfather menyerang Death dan melemparkannya melintasi arena.
Di tengah pertarungan, ia kembali menyinggung jiwa-jiwa Nephilim yang terperangkap dalam amulet. Ia juga mempertanyakan apakah Death bersedia bergabung dengan mereka dalam penderitaan tersebut.
Namun, pertanyaan berikutnya jauh lebih personal.
Crowfather bertanya apakah Death bersedia membunuh saudaranya sendiri demi menyelamatkan keseimbangan.
Death menjawab dengan tegas bahwa War tidak bersalah.
Tetapi Crowfather tidak langsung menerima jawaban tersebut.
Ia justru mempertanyakan apakah Death benar-benar yakin dengan keyakinannya sendiri.
Tepat setelah pertanyaan itu, Crowfather berubah menjadi sosok War.
Adegan tersebut menjadi penutup yang penuh tanda tanya dalam bagian pertama cerita ini.
Mengapa Crowfather menggunakan wujud War? Apakah ia sedang menguji keyakinan Death, atau ada sesuatu yang lebih dalam di balik perubahan tersebut?
Teks dialog bagian ini belum memberikan jawaban. Namun, perubahan wujud itu jelas muncul setelah Crowfather mempertanyakan kesetiaan dan keyakinan Death terhadap saudaranya.
Kesimpulan: Masa Lalu Death Menjadi Bagian dari Misinya
Bagian pembuka Darksiders II memperkenalkan perjalanan Death melalui beberapa konflik yang saling berkaitan.
Di satu sisi, ia adalah salah satu dari empat Nephilim yang pernah memusnahkan bangsanya sendiri demi menjaga Keseimbangan. Di sisi lain, ia sekarang bersedia menghadapi bahaya demi menyelamatkan War dan mengembalikan umat manusia dari kepunahan.
Pertemuannya dengan Crowfather juga memperlihatkan bahwa masa lalu Death belum sepenuhnya selesai. Amulet yang menyimpan jiwa saudara-saudaranya menjadi pengingat bahwa keputusan yang pernah diambilnya masih memiliki konsekuensi.
Sementara itu, Crowfather tidak hanya menjadi sumber informasi bagi Death. Ia juga menjadi sosok yang mempertanyakan keyakinan, kesetiaan, dan hubungan Death dengan saudaranya sendiri.
Pada akhirnya, perjalanan Death dimulai bukan dengan kepastian bahwa ia akan berhasil, melainkan dengan sebuah tujuan yang bahkan belum ia ketahui cara mencapainya.
Ia ingin menyelamatkan War. Ia ingin mengembalikan umat manusia. Dan untuk melakukan semua itu, ia harus kembali menghadapi rahasia dari masa lalunya sendiri.
Inilah awal perjalanan Death dalam Darksiders II.
Tonton Video Movie + gameplay Lengkapnya dengan Dubbing Bahasa Indonesia di bawah ini:
